Minggu, 06 Mei 2012

Pekerja Masih Memprihatinkan

0 comments
Bekerja dengan menerima upah atau gaji, baik di kalangan swasta maupun pemerintahan, belum menjamin kesejahteraan. Tidak sedikit pekerja, karyawan, ataupun pegawai negeri sipil yang mempertimbangkan untuk berwirausaha. Mencari penghasilan yang lebih baik.

Tingginya minat berwiraswasta terungkap dari hasil survei Litbang Kompas pada 25-27 Maret lalu. Sebagian besar (70,4 persen) responden yang saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), karyawan swasta, ataupun buruh tertarik untuk memulai usaha sendiri.

Wirausaha kian dilirik seiring semakin mengemukanya ketidakpuasan pada penetapan upah minimum. Tahun ini, rata-rata upah minimum di 33 provinsi di Indonesia hanya Rp 1,15 juta per bulan. Dengan jumlah itu, setiap anggota keluarga dari seorang pekerja dengan satu istri dan dua anak hanya akan mendapatkan rata-rata Rp 290.000 untuk hidup selama sebulan. Angka ini hanya sedikit di atas garis kemiskinan tahun 2011, yakni Rp 233.740 per orang. Kenaikan upah minimum pun terkadang tak dapat mengimbangi inflasi.

Satu dari lima responden yang saat ini berstatus sebagai pekerja mengaku tidak puas dengan penghasilan mereka. Selain itu, sekitar sepertiga dari total responden yang tersebar di 12 kota besar ini mengaku tertarik berwirausaha karena berharap penghasilan yang lebih tinggi. Adapun responden yang tidak tertarik beralih menjadi wirausaha mengaku sudah mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan.

Para calon wiraswasta ini tertarik memulai usaha yang mudah dijalankan, berisiko rendah, tetapi menjanjikan dari sisi penghasilan. Usaha di bidang makanan menjadi pilihan 25 persen responden yang saat ini masih berstatus sebagai pekerja. Usaha di bidang fashion, terutama pakaian dan alas kaki, juga banyak diminati.

Usaha yang diminati umumnya yang memerlukan modal relatif kecil mengingat lebih dari separuh responden memilih menggunakan dana pribadi atau patungan dengan kerabat ketimbang meminjam modal usaha ke bank. Prosedur peminjaman yang memakan waktu dan keterbatasan aset yang bisa dijaminkan menyebabkan mereka menjauhi perbankan. Belum lagi jika usaha tidak berjalan mulus, dana dari perbankan akan menjadi beban karena harus dikembalikan beserta bunganya.

Selain ketidakpuasan terhadap pendapatan, keterbatasan lapangan kerja juga memperkuat berkembangnya minat wirausaha. Tidak sedikit lulusan pendidikan tinggi yang menganggur karena sulit mendapatkan pekerjaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (Februari, 2011), ada 612.000 orang berpendidikan sarjana di antara 8,12 juta penganggur.

Jumlah penganggur berpendidikan tinggi ini belum termasuk tamatan universitas yang terpaksa harus bekerja seadanya. Tidak sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Tak kurang dari 20 persen responden berpendidikan tinggi (sarjana dan pascasarjana) mengaku tak puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Sebanyak 35,8 persen responden yang tertarik berwiraswasta juga dari kalangan berpendidikan tinggi.

Kian banyak lulusan universitas yang membuat usaha sendiri menjanjikan masa depan cerah bagi perekonomian. Bakal ada penciptaan lapangan kerja. Para wirausaha yang berlatar belakang pendidikan tinggi punya peluang menciptakan lebih banyak inovasi produk dan lebih kreatif mengatasi masalah pendanaan dan pemasaran. Aktor ekonomi berkualitas seperti ini tak hanya mampu menciptakan kesejahteraan, tetapi juga bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk pengembangan usaha.t
Read more...
Kamis, 19 April 2012

Tobelo Dan Kisahnya

0 comments
Tobelo: 12 tahun lalu Halmahera Utara mengusik perhatian dan meramaikan pemberitaan dengan konflik horisontalnya. Sejarah kelam karena pertentangan identitas yang mengorbankan ratusan jiwa memang menjadi kenangan tak terlupakan. Tatanan masyarakat porak-poranda, antar desa saling serang hingga memunculkan trauma. Bumi Halmahera yang indah itupun terkoyak, adat yang sempat mereka pegang teguh turun temurun sejenak terlupakan. Hingga pada suatu waktu adat menyadarkan dan menyatukan mereka kembali.

Hibualamo menjadi penting. Rumah adat yang dihormati di Tobelo itu menjadi titik semangat perdamaian. Semangat yang terus dipegang hingga 12 tahun kemudian, Halmahera Utara kembali muncul di kancah nasional, kali ini dengan semangat perdamaian yang dipenuhi rasa persaudaraan.
Semangat perdamaian yang membawa saudara-saudara mereka dari berbagai komunitas adat se-nusantara mendatangi Tobelo. Kehadiran mereka adalah untuk memastikan terlibat pada Konggres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara IV (KMANIV) 19 hingga 25 April 2012 mendatang. Masyarakat Tobelo secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi bagian sejarah evaluasi perjuangan AMAN dan rumusan strategi AMAN kedepan. Tema yang dipilih adalah Memperkokoh Kebersamaan, Mewujudkan Masyarakat Adat yang Berdaulat, mandiri dan Bermartabat. Masyarakat Tobelo sangat antusias menyambut semua.

“Saat ini sudah ada sekitar 700 orang di Tobelo dan besok akan datang sekitar 400an, lebih banyak yang datang dan kita siap berkonggres, ” papar Ruka Sombolinggi, ketua panitia KMAN IV.
Dipilihnya Tobelo sebagai tuan rumah konggres bukan tanpa sebab. Pembelajaran peristiwa 1999 menyadarkan semua pihak. Ketika orang mempertentangkan identitasnya, mereka bisa berdamai karena satu adat. Tobelo memberi pelajaran kalau adat kuat, apapun itu bisa menjadi berkah, sebagaimana diungkapkan sekjen AMAN Abdon Nababan.

“Tobelo adalah salah satu contoh, kalau adat kuat apapun perbedaan kita tadi akan menjadi berkah. Memilih Tobelo adalah menyatakan bahwa adat bisa menjadi media pemersatu kita, ” beber Abdon.

Pemda Halmahera Utara melalui Bupati Hein Namotemo menjelaskan bahwa pelaksanaan Konggres AMAN IV di wilayahnya adalah upaya belajar dan mempromosikan bagaimana yang berbeda-beda itu menyatu. Halmahera dengan 19 komunitas masyarakat paguyuban dan 10 komunitas masyarakat adat bisa hidup berdampingan dengan damai.

“Halmahera utara, Tobelo kita jadikan tuan rumah sebagai mengekspresikan kembali jatidiri kami untuk memperkenalkan secara nasional khususnya di masyarakat adat. Kita belajar bagaimana yang berbeda-beda ini menyatu di daerah kami, sampai mempromosikan kebersamaan kami,” jelas Hein.
Konggres ini datang dari berbagai wilayah dinusantara dan salah satu aspek kita selama ini kita kurang mengenal budaya antara satu dengan yang lain. Disinilah sejarah akan kembali diukir, dari Tobelo untuk persatuan adat nusantara.

sumber: http://kotahujan.com
Read more...
Senin, 16 April 2012

Suku Mentawai dengan Hutan

0 comments
Gerson Merari (Puailiggoubat) : Dalam kepercayaan mereka merusak hutan sama saja merusak kehidupan, dan aturan itu ada dalam kehidupan adat istiadat mereka yang dikenal dengan kearifan lokal. Di masa lalu masyarakat Mentawai juga mengenal panaki, suatu upacara untuk membuka hutan menjadi ladang. Dengan guntingan kain kecil-kecil yang disangkutkan pada satu tiang kayu, mereka yang membuka hutan meminta izin kepada penguasa hutan agar penguasa itu tidak terkejut. Tanpa panaki, pembukaan hutan menjadi ladang tidak mungkin dilakukan.
Ya mungkin hal ini akan jadi naif jika disandingkan dengan ajaran agama yang ada saat ini, namun di Mentawai tidaklah demikian karena walau pun telah menganut agama formal, ritual meminta izin (Panaki) kepada leluhur kalau akan melakukan aktivitas di hutan tetap dilakukan.

Masyarakat tradisional Mentawai percaya bahwa hutan merupakan kepercayaan tradisional yang diyakini sebagai tempat roh-roh leluhur yang turut menjaga segala jenis tumbuh-tumbuhan obat yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, kepercayaan tersebut dikenal dengan Arat Sabulungan. . Alam sangat dihormati karena mereka percaya semua benda yang hidup ada pemiliknya. Tentu saja pemilik akan marah jika yang dimilikinya dirusak.

Kepercayaan itu mengajarkan manusia untuk memperlakukan alam, tumbuh-tumbuhan, air, dan binatang seperti dirinya.Daun bagi suku Mentawai dianggap memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan dan menghidupkan. Daun selalu ada dalam upacara-upacara suku Mentawai. Masyarakat Mentawai pun dikenal dengan kemampuan mereka yang menakjubkan, yakni menyembuhkan orang sakit dengan menggunakan daun-daunan liar yang tumbuh di hutan. Daun juga dipercaya mampu menghubungkan manusia dengan penguasa jagat raya yang disebut Ulau Manua.

Oleh karena itu setiap mengambil sesuatu di dalam hutan seperti kayu buat rumahnya mereka selalu menanam yang baru, sehingga kelestarian hutan di Mentawai tetap terjaga.

Seiring masuknya pengaruh dari luar, baik masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan Indonesia, sabulungantidak bisa lagi dilakukan dalam bentuk formal. Sabulungan dianggap kepercayaan yang sesat, bahkan segala atribut mereka dibakar dan dimusnahkan. Padahal, yang mereka sembah adalah penguasa langit dan bumi yang tidak kelihatan, yang oleh sejumlah agama disebut Tuhan.

Meski demikian, sabulungan tetap hidup dalam jiwa masyarakat suku Mentawai. Mereka arif menjaga dan melindungi hutan di tanah mereka melalui peraturan adat.

Menebangnya pun dengan sistem tebang pilih, tidak boleh sembarangan. Sebelum menebang pohon atau hutan, harus pula diadakan punen atau lia yang merupakan suatu upacara adat semacam permintaan izin dan ucapan terima kasih.

Tidak hanya menebang hutan, mengotori air juga merupakan suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan, bahkan bisa mendatangkan hukuman berupa denda adat. Denda itu setara dengan seekor babi, yang termasuk harta berharga bagi masyarakat Mentawai. Di sungai, buang air kecil saja dilarang, apalagi buang air besar, sangat tidak diperbolehkan karena air adalah sumber kehidupan. Air dari hulu ke hilir sungai memang terlihat bersih tanpa pencemaran.

Meski masyarakat Mentawai saat ini sudah memeluk agama formal, seperti yang diharuskan pemerintah, kearifan lokal itu masih terjaga. Masyarakat Mentawai yang hidup di pedalaman masih menjaga tradisi menghormati alam semesta. Salah satu bentuk sabulungan saat ini terwujud dalam upacara penyembuhan orang sakit oleh sikerei.

Tidak hanya daun yang berkhasiat untuk menyembuhkan si sakit, hutan pun memberikan kayu yang bagus yang bisa dibuat sampan jika keseimbangannya dijaga. Sampan merupakan sarana vital masyarakat suku Mentawai untuk saling berhubungan antara satu daerah dengan daerah lain.Karena kearifan lokal yang sering disebut sabulungan yang mendarah daging di dalam suku Mentawai, mereka bisa menentukan tempat yang tepat untuk berladang. Ladang mereka selalu aman, jauh dari bencana longsor, misalnya, karena mereka mengganti pohon yang ditebang dengan tanaman baru.

Namun, kearifan lokal itu dalam menjaga hutan harus bentrok dengan hak pengusahaan hutan (HPH) dan izin pemanfaatan kayu (IPK) yang mulai marak di Pulau Siberut. Sekitar tahun 1970-an pemerintah membagi hutan Siberut seluas 408.000 hektar untuk empat HPH dan hanya menyisakan 6.000 hektar untuk suaka margasatwa serta 65.000 hektar untuk permukiman dan pertanian.

Sejak tahun 2001 Pemerintah Kabupaten Mentawai memberikan lagi HPH kepada PT Koperasi Andalas Madani (KAM) dan kepada PT Salaki Summa Sejahtera (SSS). Selain kerusakan ekologi, kehidupan sosial budaya masyarakat suku Mentawai pun terancam.Selain sebagai pendukung kehidupan masyarakat, hutan Mentawai merupakan ekosistem bagi sejumlah satwa endemik yang hanya ditemui di Kepulauan Mentawai, antara lain joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), simakobu (Simias concolor), dan bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii).

Monyet-monyet itu pun merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat suku Mentawai. Berburu monyet merupakan bagian dari tradisi masyarakat Mentawai. Selain itu, tampak pula dalam ukir-ukiran hiasan dinding yang merupakan jimat yang dipasang di atas pintu masuk ruangan kedua dalam sebuah uma. Ukiran yang disebut jaraik itu berwujud tengkorak monyet, biasanya bokkoi jantan dewasa.

Namun ancaman perusakan tatanan social, budaya dan ekonomi tak hanya sampai di situ, ancaman baru yang lebih mengerikan yang akan di alami oleh hutan dan masyarakat Mentawai adalah dengan diberinya izin perkebunan kelapa sawit oleh Edison Saleleubaja, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai yang akan menghajar ribuan hektar hutan dan ladang masyarakat Mentawai.

Sudah dipastikan tanaman seperti durian, langsat dan sagu yang menjadi sumber makanan dan sebagai alat budaya akan musnah oleh serakahnya segelintir penguasa di Mentawai.***
Read more...
Sabtu, 31 Maret 2012

Bea Siswa Untuk Siapa ????

0 comments
Beasiswa pendidikan untuk siswa miskin belum menyentuh Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat
"Beasiswa Pendidikan Pemprov Sumbar selama ini ternyata belum menyentuh anak didik di Mentawai," kata Ketua DPRD Mentawai Hendri Dori Saitako saat dihubungi dari Padang, Rabu.

Read more...
 
Sura' Mentawai FM © 2011

Radionyo Mentawai